Ada banyak cara untuk berbisnis. Namun belum banyak pebisnis Indonesia yang mau berkreasi dan berinovasi dengan teknologi. Dengan perhitungan yang pas, bisnis bisa berkembang baik.
"Bisnis bukan hanya soal passion, tetapi juga soal angka. Ada perhitungan," ungkap Bullit Sesariza, seorang game developer, dan Afit, salah satu founder kedai makan Holycowsteak, dalam Obrolan Langsat pada 4 Juli 2011.
Bullit, salah satu peserta kompetisi Indonesia Young Creative Entrepreneur dari British Council, menggunakan teknologi dalam bisnisnya. Spesialisasi industrinya adalah game elektonik yang inovatif.
Dia kemudian sempat melakukan kerja kolaboratif dengan memasukkan unsur animasi, komik dan pemograman komputer saat berusaha menghidupkan sebuah lukisan mural di museum Fatahillah Jakarta.
"Museum itu penuh 'harta karun'. Ada sebuah gambar mural yang belum jadi dan terbengkalai. Dari situ saya berpikir bagaimana menghidupkan mural itu agar orang mau ke museum dan terhibur," kata Bullit.
Dengan menggunakan proyektor, Bullit membuat pertunjukkan drama di mana para tokohnya diambil dari gambar mural yang ada di dinding museum tersebut.
"Gambar itu bisa hidup dengan permainan cahaya dan komputer. Saya ingin lukisan mural di dinding itu selesai, tetapi juga tak mau menghilangkan orisinalitasnya," tegas Bullit.
Nyaris senada dengan Bullit, Afit membangun bisnis kedai makanan steak-nya dengan teknologi komunikasi. Bersama sang istri, Lucy Wiryono, dan founder lainnya yang juga sepasang suami istri, Afit melakukan studi kelayakan untuk menemukan sudut promosi kedainya.
"Kami bukan kedai dengan modal besar. Tidak mungkin bisa memanggil pers saat launching atau pasang iklan. Tempat pun kami "menumpang" di emperan toko. Jadi kami harus kreatif memanfaatkan media sosial," ungkap Afit.
Media sosial memang banyak dilirik oleh para pebisnis dan pemilik merek. Tetapi menurut Lucy, semua tetap harus dianalisa sehingga menemukan strategi yang tepat.
"Masuk ke dunia media sosial tidak berarti kita (pebisnis) melulu hanya melakukan promo. Kita harus bisa menciptakan komunikasi dan sekaligus menimbulkan rasa penasaran di pihak pelanggan," tutur Lucy yang juga berprofesi sebagai host acara televisi.
Apa yang dilakukan oleh Bullit dan Holycowsteak adalah berusaha membuat pengalaman yang unik bagi pelanggannya. "Holycowsteak sangat bergantung pada pelanggan. Apapun masukan dan tanggapan mereka sangat berarti bagi kami," ucap Afit.
Sementara video mapping yang dilakukan oleh Bullit kini diadopsi oleh kelompok seni di Milan, Italia, untuk lukisan "The Last Supper".
Bullit menegaskan sebuah pesan bahwa jangan takut gagal dalam berbisnis. "Jika gagal, cobalah berdiri lagi," katanya. Sementara Afit memberi tips agar mau peka terhadap sekitar dan memperhatikan sekeliling. "Dengan itu, ide pasti datang," tutupnya.


Komentar