Jurnalisme Investigasi yang Penuh Tantangan

Rabu, 6 Jul '11 19:11 • 0 komentarNotula

Dalam sebuah negara yang menganut demokrasi seperti Indonesia, jurnalisme investigasi menjadi sangat penting. Ia memiliki kemampuan mengungkap kumpulan fakta yang ada di balik sebuah berita. 

"Berita yang ringkas memang diperlukan. Tapi jangan lupakan jurnalistik investigasi yang bisa mengungkap fakta lebih dalam dari berita ringkas terkait," ungkap pengamat media dan dosen FISIP UI, Ade Armando, dalam Obrolan Langsat 5 Juli 2011.

Jurnalisme investigatif sendiri adalah lapisan ketiga dari berita dan sejatinya dilakukan untuk sebuah perubahan. "Tetapi faktanya, banyak media yang lebih senang menampilkan berita ringkas karena untuk melakukan reportase yang mendalam memerlukan biaya mahal dan waktu yang lama," tukas wartawan senior dan penulis, Seno Gumira Ajidarma.

Oleh karena itu, jika ada media yang berniat untuk melakukan reportase investigatif maka sebaiknya melepaskan diri dari kepentingan atau tujuan bisnisnya. "Sebab reportase seperti ini memang untuk mencerahkan publik," tegas Seno.

Reportase investigasi juga bisa dalam bentuk gambar seperti foto atau film dokumenter. Pasalnya, fotografi, sastra dan jurnalisme investigasi menjadi satu mata rantai yang sama.

Namun ini juga seringkali sulit dilakukan. "Ada langkah yang tidak linier antara jurnalis foto dengan pemilik media," kata pendiri galeri foto Antara, Oscar Motulloh.

Oscar, yang awalnya berkarir sebagai fotografer olahraga, menjelaskan bahwa reportase investigasi secara visual bisa dilakukan dengan menggunakan kamera tersembunyi atau diabadikan langsung oleh fotografernya.

"Penggunaan fotografi untuk reportase investigasi di Indonesia sudah dilakukan sejak jaman Presiden Soekarno. Foto bisa menyamakan visi dan persepsi di masyarakat," sergah Oscar.

Secara umum, reportase investigasi di media cetak Indonesia berkembang sangat baik dan positif. Tetapi di sektor televisi, reportase investigasi justru banyak polusi -- seperti yang dikatakan oleh pengamat televisi, Marseli Setiawan.

"Televisi Indonesia memang memiliki acara reportase investigasi masing-masing. Tetapi mayoritas karyanya seperti Mak Erot, yakni membesarkan hal-hal yang tidak besar dengan efek video, dramatisasi dan sebagainya," ungkap Marseli.

Malangnya, televisi yang punya kekuatan dalam gambar dan suara sebagai unsur reportase justru memberi pengaruh besar pada jurnalisme investigasi. "Selain televisi, media online juga memberi pengaruh," imbuh Ade.

Apapun, reportase investigasi memang penuh tantangan. Selain dana juga diperlukan ruang dan waktu yang cukup agar akurasinya terjaga. Juga dibutuhkan tekad, kemauan dan keberuntungan.

"Semua media, apapun jenisnya, termasuk media gaya hidup bisa membuat reportase investigasi. Yang penting, jadikan perjuangan membuat reportase itu sebagai kegiatan yang seksi sehingga menarik banyak pihak," pungkas Seno.

Dalam kesempatan Obsat kemarin juga diluncurkan buku "Karya Terbaik Anugerah Adiwarta Sampoerna 2006-2010". Buku ini memuat seluruh tulisan investigatif wartawan Indonesia selama lima tahun. Anugerah Adiwarta sendiri merupakan ajang penghargaan bagi reportase investigasi yang tingkat partisipasinya dari tahun ke tahun selalu meningkat. 

Komentar

Belum ada komentar.

or create account to post comments