Sumber air bersih di muka bumi sangat terbatas. Kondisi itu kini beringsut menjadi lebih langka. Bila setiap individu tidak melakukan sesuatu, kelangkaan air bersih akan terjadi lebih cepat. 
"Kelangkaan air bersih pasti terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah memperlambat proses menuju ke sana," kata Dr. Heru Hendrayana, Senior Hydrogeologist Universitas Gajah Mada, di Obrolan Langsat 7 Juli 2011.
Dijelaskan oleh Dr. Heru, air merupakan substansi paling penting dalam sistem di bumi. Namun dari 70% air di muka bumi ini, hanya 4% yang berbentuk air tawar. Malangnya, hanya 1% air tawar yang bisa dimanfaatkan manusia dalam hidup sehari-hari karena sisanya berbentuk es di kutub.
Itu sebabnya persediaan air yang hanya 1% itu harus dijaga kuantitas dan kualitasnya. "Bila tidak, air akan bergeser dari barang ekonomis menjadi strategis. Di beberapa tempat, itu sudah terjadi," tuturnya.
Indonesia sebenarnya sudah menyikapi keterbatasan sumber air bersih dengan 2 Undang Undang (UU). Namun, menurut Dr. Heru, UU tersebut tidak dijalankan. Akibatnya, sumber air di Indonesia terus menyusut. Belum lagi penurunan permukaan tanah yang masif karena penyedotan air tanah yang tidak terkontrol.
"Dampak penurunan muka tanah sudah banyak. Di Jakarta, penurunan sekitar 12 cm per tahun. Jalanan Jakarta yang mudah tergenang ketika hujan juga dipengaruhi oleh penurunan muka tanah," terang Dr. Heru.
Contoh penurunan muka tanah yang masif juga terjadi di Semarang yang mudah digenangi air laut (rob) dan jalan tol Bandara Cengkareng. Rob terjadi karena permukaan tanah telah berubah lebih rendah dari permukaan laut.
Penyedotan air tanah yang tidak terkontrol juga menyebabkan hilangnya pertahanan terhadap intrusi air laut. Ketika sumber air di dalam tanah masih melimpah, dorongan mereka terhadap air laut lebih kuat. Sekarang, telah terjadi hal sebaliknya.
"Di kedalaman 60 meter kota Jakarta, sumber air bersih sudah hilang. Sebagai contoh di Monas, bila Anda gali sedalam 60 meter maka air yang diperoleh terasa asin," sergah Dr. Heru.
Lalu, sekarang apa yang bisa dilakukan agar kelangkaan air bersih tidak terjadi lebih cepat?

Dr. Heru mengutip filosofi Jawa tentang menjaga alam, yakni hamangku, hamengku dan hamengkoni atau memelihara, mengayomi dan memberi teladan. Dengan kata pendek, kita jangan hanya gemar mengambil tetapi juga harus mau memberi dan bahkan melindungi sumber air. Misalnya menanam pohon di lingkungan sendiri jika memungkinkan dan menghemat penggunaan air sebisa mungkin.
Dik Doank, yang terlambat hadir, menambahkan perlunya menjaga daerah resapan (air hujan). Minimal, kita tidak menutup semua permukaan tanah dengan plesteran semen atau aspal.
"Itu sebabnya di Eropa banyak jalan menggunakan paving block sehingga air masih bisa meresap ke dalam tanah. Saya sendiri sengaja menyediakan lahan terbuka sebagai resapan air hujan di tempat tinggal," pungkas Dik yang sangat peduli terhadap kelestarian alam.


Komentar