Menjaga lingkungan alam bukan hanya urusan pemerintah atau mereka yang berkepentingan. Bentuk kerjasama tetap harus dilakukan dengan bantuan kesadaran masyarakat umum. Tanpa itu, konservasi menjadi hanya setengah matang.
"Konservasi lingkungan juga bergantung pada kepedulian semua orang. Menyusutnya lahan pertanian di Indonesia juga membuat 8000 jenis beras yang dimiliki Indonesia kini pindah ke Filipina atau negara lain," ungkap Tejo Wahyu Jatmiko dari Aliansi Desa Sejahtera pada Obrolan Langsat 20 Juli 2011 lalu.
Obsat kali ini dihadiri pula oleh 20 finalis Green Ambassador HiLo. Ke-20 muda mudi tersebut cukup fasih berbicara mengenai lingkungan dan segala tindakan konservasinya. Bahkan dalam perkenalan mereka masing-masing selalu terselip pesan positif untuk menjaga lingkungan.
Tejo menyebut segala sisi di dunia ini sejatinya adalah daerah konservasi lingkungan. Itu sebabnya semua harus dijaga dan tidak dimanfaatkan dengan semena-mena. "Kawasan alam seperti hutan pun seharusnya dimanfaatkan secara berimbang," tambah Tejo.
Tejo kemudian memberi contoh bagaimana pola konsumsi pangan kita juga memberatkan perekonomian negara karena bahan baku makanan harus diimpor. Beliau menyebut kita tidak punya kepedulian yang tinggi terhadap kawasan pedesaan atau perkebunan yang terus menyusut. Padahal kawasan itu adalah sumber bahan makanan.
"Indonesia mengimpor garam senilai Rp 1 triliun per tahun. Ini terjadi karena konservasi tepi laut kita tidak baik. Kita juga mengimpor gandum 5 ton per tahun demi memenuhi konsumsi tepung nasional yang sangat tinggi, padahal negeri ini tak bisa ditanami gandum karena lahannya tidak cocok," tegas Tejo.
Bagi Tejo, kondisi impor bahan makanan yang sangat tinggi membuat Indonesia menjadi lemah. Padahal semua negara maju selalu mengamankan masalah pangannya. Beruntung ada salah satu dari banyak pihak yang berusaha menyadarkan banyak orang tentang pemanfaatan lingkungan, yakni Indonesia Berkebun.
Komunitas sukarela ini melakukan kegiatan bercocok tanam di lahan menganggur di berbagai kota di Indonesia. Selain itu, misi Indonesia Berkebun adalah mengajak anak-anak untuk kembali akrab dengan alam ketimbang lokasi artifisial seperti mal.
"Kami terus melakukan kegiatan agar virus akrab dengan alam semakin berkembang. Itu sebabnya kami juga berkolaborasi dengan Akademi Berbagi sehingga lahir Akademi Berkebun. Cobalah berkebun, yang secara ilmiah sudah terbukti mampu menghilangkan stres," tandas Beryozka dari Indonesia Berkebun.
Apa yang dilakukan oleh Indonesia Berkebun dipuji oleh Tejo dan Wibowo Sulistio dari Wiser Earth Indonesia. Indonesia Berkebun dinilai Wibowo menggunakan kekuatan jaringan sosial (social networking) dalam berkegiatan. Hal yang sama dilakukan oleh Wiser Indonesia untuk menyebarkan isu lingkungan ke berbagai lapisan masyarakat.
"Kepedulian terhadap lingkungan memang berimbas pada ekonomi sebuah negara. Di Inggris, sebuah organisasi sampai melakukan riset terhadap sistem ekonomi yang bisa berpengaruh positif pada lingkungan. Ini penting," tutup Wibowo.


Komentar