Berbuatlah untuk Pendidikan

Jumat, 29 Jul '11 16:45 • 0 komentarNotula
1

Dunia pendidikan, terutama sekolah, di Indonesia masih jauh dari memuaskan. Angka putus sekolah pada usia 13-18 tahun pada 2008 mencapai 9 juta anak dari populasi 25 juta anak menurut data Depdiknas. Padahal mereka yang akan mewarnai perjalanan Indonesia di masa depan.

"Pendidikan dasar menjadi sebuah kebutuhan dalam rangka membangun karakter. Fokus pada pendidikan dasar dan menengah bisa meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) di perguruan tinggi," ujar Firdaus Alamsjah, Dean Executive Binus Business School, dalam Obrolan Langsat 26 Juli 2011.

Pemerintah sendiri menetapkan definisi putus sekolah adalah mereka yang tidak lulus wajib belajar 9 tahun. Sedangkan mereka yang tidak melanjutkan ke sekolah menengah atas bukan golongan putus sekolah.

Bagi Veronica Colondam, founder dan CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), parameter pemerintah itu mengherankan. Secara logika, bila putus sekolah hanya untuk tingkatan wajib belajar 9 tahun maka banyak anak Indonesia yang belum cukup punya modal untuk bekerja. Itu sebabnya YCAB membuat sejumlah Rumah Belajar untuk menampung anak-anak putus sekolah ini.

"Mereka diberikan pilihan aneka ketrampilan dan skill. Syarat wahib bagi siswa di Rumah Belajar adalah harus lulus bahasa Inggris dan ilmu operasional komputer. Ini penting bagi mereka sebagai modal mencari pekerjaan," ungkap Veronica.

Namun, membina anak-anak putus sekolah atau anak jalanan tidak pernah mudah. Terlebih mereka sudah lama tidak bersekolah dan mulai fokus pada pekerjaan. "Di Rumah Belajar, hal pertama yang dilakukan pembina adalah membangkitkan passion, martabat dan kehormatannya lebih dulu sebagai manusia. Setelah itu baru belajar," tambah Veronica.

Dunia pendidikan di Indonesia memang berjalan lambat. Rata-rata waktu tempuh pendidikan orang Indonesia menurut UNDP hanya 5,7 tahun.

"Artinya, rata-rata orang Indonesia tidak lulus SMP. Akibatnya, Indonesia sulit memenuhi permintaan tenaga kerja berbasil skill. Dibutuhkan integritas dari sektor publik untuk mengatasi hal ini, sekaligus mengurangi kesenjangan pendidikan di level dasar," kata Firdaus.

Namun Firdaus optimistis bahwa kualitas orang Indonesia akan makin baik. Indikasinya adalah mahasiswa yang makin kritis. "Artinya, mereka punya basis pendidikan dasar yang baik sebab hal itu terkait karakter," tegasnya.

Di akhir obrolan, moderator M. Farhan menyelipkan sebuah pesan. Menurutnya, data pendidikan Indonesia yang memprihatinkan adalah satu hal. "Tetapi melakukan sesuatu hal demi pendidikan di Indonesia adalah hal lain yang juga penting," pungkasnya.

Terkait:

Komentar

Belum ada komentar.

or create account to post comments