Bagi sebagian orang Indonesia, studi di luar negeri menjadi obsesi. Khususnya, studi lanjut di tingkat pasca-sarjana (S2 dan S3). Obsesi ini bisa jadi dilatarbelakangi buruknya kualitas pendidikan lanjut di negeri sendiri, namun sedikit banyak juga adalah karena prestise dan gengsi.
Akibatnya, makin banyak orang berminat meneruskan studi lanjut di luar negeri. Namun karena minimnya informasi, atau demikian ruwetnya informasi tentang studi di luar negeri, ia juga lantas mirip misteri.
Mengapa studi di luar negeri? Negara apa yang baik sebagai tujuan studi? Bagaimana mencari beasiswa? Siapa yang memberikan beasiswa? Bagaimana memilih program studi? Bagaimana memilih universitas? Bagaimana cara melamar beasiswa? Bagaimana
cara melamar program studi master dan doktor? Bagaimana mengajukan usulan riset? Bagaimana hidup di negeri dengan budaya dan suasana berbeda? Bagaimana bertahan hidup dengan beasiswa pas-pasan? Bisakah membawa keluarga selama studi?
Bagaimana urusan visa dan sebagainya?
Itu semua adalah sebagian kecil dari beragam pertanyaan yang sering muncul dalam pembicaraan tentang studi di luar negeri.
Itulah sebabnya Obsat menghadirkan obrolan untuk berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dari pengalaman langsung para narasumbernya yang pernah dan sedang studi di luar negeri, dan pernah/sedang menjadi dosen/pengajar di universitas di luar negeri.
Dari upaya berbagi pengalaman langsung ini, diharapkan obsesi terhadap studi di luar negeri makin dekat menjejak bumi dan apa
yang selama ini dirasa sebagai misteri makin bisa dikuak dan dipahami.
Obrolan akan dilakukan di Rumah Langsat, Jl. Langsat 1 No. 3A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Senin 10 Oktober 2011 pukul 19.00 WIB. Mereka yang akan berbagi pengalaman dan pengetahuan adalah Roby Muhamad (Dosen UI, alumnus USA), Ahmad Fuadi (Penulis, alumnus USA dan UK), Kristy Nelwan (Penulis, alumnus UK), Mirta Amalia (Peneliti, mahasiswi PhD UK), Ariono Hadipuro (Nuffic NESO Indonesia, alumnus UK) dan Yanuar Nugroho (Dosen Universitas Manchester UK) dengan dipandu oleh moderator Rachmat Anggara (Centre for Innovation Policy & Governance (CIPG), alumnus UK).


Komentar