Data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan bahwa prevalensi kurang gizi (berat badan menurut umur) secara nasional pada balita tahun 2010 adalah 17,9 persen yang terdiri dari 4,9 persen gizi buruk dan 13 persen gizi kurang. Jika dibandingkan dengan pencapaian sasaran Millenium Development Goals (MDG) 2015 yang sebesar 15,5 persen, maka prevalensi berat kurang secara nasional harus diturunkan minimal sebesar 2,4 persen dalam periode 2011 sampai 2015.
Sebagai contoh, Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sumatera Utara memiliki prevalensi atau angka kejadian gizi buruk sebesar 7,8 persen dan gizi kurang 13,5 persen. Sementara NTT memiliki prevalensi atau angka kejadian gizi buruk sebesar 9,0 persen dan gizi kurang 20,4 persen. Dari kedua provinsi tersebut, kasus gizi buruk dan gizi kurang paling banyak ditemukan di Kabupaten Nias, Sumatera Utara dan Kabupaten Ruteng, NTT.
Kasus gizi buruk dan gizi kurang ditengarai akibat rendahnya pengetahuan orang tua mengenai gizi keluarga, faktor ekonomi keluarga yang tidak memadai, faktor sosial budaya serta sanitasi rumah tangga yang buruk sehingga anak tidak mendapat asupan gizi yang cukup dan mudah terkena penyakit infeksi.
Masalah gizi di Indonesia ini harus ditanggulangi dengan pendekatan multi dimensional yang komprehensif dan tidak cukup hanya dengan memberikan makanan bergizi. Namun juga diperlukan usaha untuk meningkatkan pengetahuan orang tua akan gizi. Seperti bagaimana memberdayakan ayah dan ibunya agar mengetahui, mendapatkan dan mampu membudidayakan sumber pangan bergizi, serta mengolahnya dengan memperkecil kerusakan kandungan gizi dan bagaimana memberi makan pada anak. Hal ini termasuk menanamkan Perilaku Hidup Bersih Sehat dengan sanitasi rumah tangga. Budidaya sumber pangan selain ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak juga ditujukan untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
Pemerintah dan sektor swasta berperan penting dalam menciptakan suasana kondusif dan memfasilitasi edukasi serta pemberdayaan masyarakat namun yang terpenting adalah kesadaran dan komitmen masyarakat itu sendiri untuk meningkatkan kesejahteraannya dan mewujudkan generasi muda anak-anak Indonesia yang sehat dan berkualitas.
Obrolan Langsat menghadirkan obrolan seputar masalah gizi dalam rangka mengajak menghadirkan keceriaan bagi anak-anak melalui gizi yang cukup dan baik. Obrolan akan menghadirkan tiga narasumber, yakni Ir. Asih Setiarini, MSc. (Ahli Gizi Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia), Yuna Eka Kristina (Orang Tua Group PR Manager), dr. Monica Sahertian (Doctor dan social worker dari Yayasan Obor Indonesia untuk program TPG 2010 & 2011).
Obrolan akan digelar seperti biasa di Rumah Langsat, Jalan Langsat 1 No. 3A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada 25 Januari 2012 mulai pukul 19.30 WIB.


Komentar