Krisis lagu anak di Indonesia selama lebih dari satu dekade membuat sejumlah pihak tergerak untuk memproduksi lagu anak secara cuma-cuma. Tujuan mereka hanya satu, demi pertumbuhan anak Indonesia.
"Generasi yang dapat membenahi Indonesia adalah generasi anak-anak kita. Namun pertanyaannya apakah anak-anak yang sejak kecil mendengarkan lagu orang dewasa?" sergah Djito Kasilo dalam Obrolan Langsat hari Kamis (16/2) kemarin.
Dalam obrolan yang dimoderatori oleh Anto Motulz ini juga hadir sebagai narasumber; Bapak Surjo Prasojo (putra Bapak dan Ibu Kasur), Ibu Supriyani (Kepala Sekolah Tk Mini Pak Kasur Cikini), Riyanni Djangkaru mewakili seorang ibu, Leony Vitria (mantan penyanyi cilik) dan Andrey Noorman (Artist & Repertoar Trinity/Prosound Recording).
Djito sendiri aktif menciptakan lagu anak yang bisa diunduh gratis melalui laman komunitas MariNyanyi Jogjakarta. "Lagu adalah salah satu fun tool yang dapat membentuk karakter anak-anak," katanya.
Menurut Ibu Yani, tujuan TK Mini Pak Kasur adalah membentuk karakter anak sebaik mungkin. Salah satu caranya adalah dengan menyanyikan lagu yang khusus untuk anak sebagai sarana pendidikan.
"Ketika menyanyi, anak akan diiringi musik. Faktor kegembiraan, penguasaan kosa kata, emosi dan kreativitas anak bisa terlihat dari kegiatan ini. Anak-anak juga gemar melakukan pengulangan, termasuk dengan menyanyikan lagu," ungkap Ibu Yani.
Tentu saja yang dinyanyikan oleh siswa di Tk Mini adalah koleksi lagu ciptaan Pak dan Ibu Kasur. Menurut Pak Pras, lagu ciptaan orang tuanya memang relevan sampai saat ini karena disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak.
"Misalnya lagu Sayang Semua yang mengandung muatan matematika, motorik dan afeksi. Di lagu itu pula tidak ada huruf 'R' karena anak-anak usia balita sulit melafalkan bunyi huruf 'R' dengan benar," kata pak Pras.
Riyanni sendiri sepakat dengan Pak Pras dan Ibu Yani. Namun dia juga tak berdaya dengan ketiadaan lagu anak di pasaran sehingga tak pelak anaknya (ikut) mendengarkan lagu untuk orang dewasa yang diputarnya.
"Saya kesulitan membentengi anak dari lagu-lagu populer yang mudah menempel di kepala. Tapi saya mengakalinya dengan mengganti lirik seraya bekerja sama dengan guru di sekolah," tutur Riyanni yang lebih dikenal sebagai host acara televisi Jejak Petualang.
Menurut Leony, yang dilakukan oleh para narasumber adalah hal yang tepat. Orang tua, sekolah dan guru melakukan saringan lagu yang didengarkan oleh anak.
"Anak-anak mudah sekali belajar melalui lagu. usia 3-8 tahun lebih mudah menyerap pelajaran budi pekerti dan nilai kehidupan melalui lagu yang menyenangkan. Mereka juga pintar menangkap lirik dan menghapalnya. Itu sebabnya harus diperdengarkan lagu yang sesuai dengan usia mereka," kata Leony yang populer bersama trio Kwek Kwek.
Masalah ketiadaan lagu bagi anak memang masalah tersendiri. Andrey mengatakan industri rekaman sejak 3 tahun lalu sudah melakukan riset distribusi lagu anak-anak. "Tetapi kami kesulitan menemukan lagu yang tepat dan cocok bagi anak-anak," tukas Andrey.
Itulah sebabnya Djito bersama kawan-kawannya dengan spontanitas memproduksi lagu anak agar ketersediaan di publik melimpah. Dengan mengunjungi situs MariNyanyi, siapapun boleh mengunduh koleksi lagunya dengan gratis dan menyebarkannya seluas mungkin.
"Sebenarnya dengan kemajuan teknologi internet, penyebaran lagu anak bukan lagi isu besar. Patungan untuk membeli CD untuk proses penggandaan dan dibagikan ke sekolah TK juga tidak sulit," sahut Djito.
Menurut Leony, krisis lagu anak yang terjadi sekarang memang pekerjaan rumah banyak orang. Selain krisis kontennya, juga terjadi krisis media dan wadahnya.
"Sebenarnya andai mau, perusahaan rekaman bisa melakukan rekaman ulang lagu lama anak-anak. Saya bersama trio Kwek Kwek pernah membuat rekaman sebanyak 6 volume. Per volume ada 30-40 lagu. Artinya saya sudah menyanyikan (ulang) lebih dari 100 lagu anak," tandasnya seraya mengkritik stasiun tv lokal yang juga jarang menyediakan tontonan untuk anak-anak.
Djito mengatakan lagu yang banyak diunduh di laman MariNyayi adalah lagu Sayur dan Buah. Karena kegiatan Djito dan kawan-kawannya tidak berbayar, mereka juga menanti siapapun yang ingin membantu sebagai sukarelawan.
"Kami melalukan ini semua dengan perhitungan matang. Dalam membuat lagu, misalnya, saya berhati-hati dan melakukan riset dahulu untuk kepentingan anak-anak. Bagi saya, alasannya adalah demi anak-anak," pungkas Djito.


Komentar